Mengolah Batang Papaya Menjadi Kue

KM. Pohgading Timur - Hampir semua bagian tanaman pepaya sudah dimanfaatkan, mulai dari akar, buah, bunga hingga bagian daunnya. Namun bagian batang pepaya sangat jarang bahkan tidak dimanfaatkan sama sekali. Kalaupun dimanfaatkan hanya sebagai makanan ternak, bahkan mirisnya lagi jika tidak dimanfaatkan sebagai makanan ternak, batang pepaya hanya dibuang sebagai limbah yang merusak lingkungan. Padahal jika ditinjau dari segi kandungannya, batang pepaya memiliki kandungan kimia seperti enzim papain, papayotin, pepayachin, protein, karpusittanin, enzim protality, vitamin A dan C, alkaloida serta glukosida yang sangat baik untuk kesehatan. Selain itu, jika kita lihat kebiasaan orangtua dulu pada masa penjajahan yang biasa mengkonsumsi batang pepaya ebagai makanan sehari-hari. Batang pepaya diolah dengan mengupas bagian kulit luarnya, kemudian direbus dan dicampur dengan gula merah.Sehingga sangat disayangkan apabila batang pepaya  tidak dimanfaatkan.
Ide saya untuk menciptakan inovasi makanan baru sekaligus sebagai pengganti tepung terigu, yakni dengn mengolah batang pepaya menjadi kue semprit. Kelebihan dari kegiatan ini adalah selain untuk mengurangi impor gandum ke Indonesia yang merupakan bahan dasar tepung terigu, juga menambah manfaat batang pepaya agar tidak hanya mengotori lingkungan setelah masa produktifnya serta meningkatkan nilai jual batang pepaya agar lebih bernilai ekonomis. Sehingga dengan munculnya ide ini maka usaha kue semprit lolon gedang ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sehingga mengurangi jumlah pengangguran yang ada di desa Dasan Lekong pada umumnya.
Akhir tahun 2012 menjadi tonggak sejarah munculnya ide untuk mengolah batang pepaya menjadi tepung. Ide ini muncul ketika saya menduduki bangku SMA kelas XI. Pada saat itu ada tugas membuat karya ilmiah dan ada teman yang memberitahu saya ternyata batang pepaya bisa dimakan dan tidak beracun. Pada saat itu juga saya berpikir bahwa jika batang pepaya dapat dimakan dan tidak beracun, kenapa tidak diolah sebagai makanan? Karena seperti kenyataan yang ada bahwa daerah Nusa Tenggara Barat, khususnya daerah Kabupaten Lombok Timur sangat kaya akan tanaman pepaya. Bahkan sangat banyak tersebar dari pulau Lombok sampai ke pulau Sumbawa. Selain itu juga tanaman pepaya tumbuh dan tidak mengenal musim. Akan tetapi pemanfaatannya sangat minim, yakni hanya dimanfaatkan bagian buahnya saja. Meskipun bagian daun kadang diolah sebagai sayuran, namun hanya beberapa orang saja yang mau mengkonsumsinya. Dan mirisnya sekali, salah satu bagian yang paling besar pada tanaman pepaya adalah bagian “Batang Pepaya”. Sehingga sangat miris sekali jika setelah ditebang, tanaman pepaya khususnya bagian batangnya langsung dibuang dan menyebabkan limbah. Dan kalau pun dimanfaatkan hanya sebagai makan ternak. 
Seperti yang pernah saya alami, kebetulan saya memiliki paman yang berprofesi sebagai petani yang ada di daerah Sukamulia. Pada saat itu saya berkunjung ke rumahnya, di depan rumah sangat terlihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Saya melihat dua tumpukan batang pepaya yang dibuang setelah di tebang. Kemudian besoknya lagi saya kesana, dan dengan hal yang sama saya menemukan batang pepaya tersebut masih tergeletak sebagai sampah yang terlihat mengotori lingkungan rumah. Sehingga saya berpikir bagaimana agar bisa mengolah batang tanaman pepaya  agar bisa menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.
Maka mulai tahun 2013, mulailah saya melakukan percobaan pembuatan batang pepaya sebagai tepung, kemudian mencoba mengolahnya menjadi kue semprit. Percobaan yang saya lakukan telah berkali-kali mengalami kegagalan. Mulai dari tekstur tepung yang sangat kasar, rasa tepung yang masih agak pahit, hingga warna tepung yang sangat kecoklatan. Namun berkat kesabaran akhirnya terciptalah produk “kue semprit lolon gedang” dengan rasa yang tak kalah enaknya dengan kue semprit dari tepung terigu. 
Pada tahun 2014 saya mulai mencoba untuk membuka usaha kue semprit lolon gedang ini, dengan dana awal sebesar Rp. 413.000 yang bersumber dari dana pribadi.  Pada proses produksi berikut, saya memulai lagi dengan 6 kelompok produksi yang terlaksana dengan biaya produksi sebesar 3.800.000,- . dana ini saya peroleh dari dana pribadi hasil bea siswa Bidik-misi. Anggota awal nya 3 orang yng terlibat. Penjualan awal saya lakukan di sekitar kampus Universitas Mataram dengan membentuk beberapa kelompok, yakni ada di Fakultas Ekonomi, FATEPA, maupun di Prody Budidaya Perairan, Universitas Mataram. Penjualan juga dilakukan dengan bekerjasama dengan kantin tiap-tiap Fakultas. Selain itu, penjualan tidak hanya melalui kantin tetapi juga mengikusertakan produk kue semprit lolon gedang pada even-even kampus.  Misalnya pada ulang tahun fakultas, maupun pada saat festival pangan nansional yang diadakan di kampus FATEPA. Bahkan sering dijual di mahasiswa yang sedang rapat maupun melakukan kegiatan yang ada di rektorat setiap sore harinya. Melihat usaha yang Alhamdulillah berjalan lancar ini, pada saat saya melakukan pengolahan kue batang pepaya di rumah, banyak tetangga yang antusias membantu, bahkan siap menjadi anggota kelompok usaha kue semprit lolon gedang ini. Dan Alhamdulillah, sudah terbentuk 9 kelompok,. baik dari kampus maupun masyarakat desa Dasan Lekong khususnya gubuk Timuk Jero. yang terdiri atas 6 kelompok peroduksi dengan anggota masing-masing kelompok berjumlah 4 orang. Sementara 3 kelompok sebagai pemasaran Sebagian besar penjualan lebih banyak dilakukan di kampus. Para anggota kelompoklebih berperan aktif dalam pengolahan, dan beberapa kelompok yang ada dikampus lebih berperan dalam penjualan. Sehingga nantinya keuntungan yang didapat bisa dibagi bersama sekaligus mengurangi pengangguran yang ada di Desa Dasan Lekong.
Disamping itu, kegiatan pangan pembuatan  “Kue Semprit Lolon Gedang” kami lakukan dengan memberikan kontribusi kepada para petani papaya. Limbah pohon papaya para petani kami ambil dengan harga Rp. 3.000/batang.
Kegiatan pembuatan kue semprit dengan bahan baku pohon papaya ini juga menarik perhatian ibu-ibu PKK desa Dasan Lekong. oleh karena itu, sayapun diminta untuk memberikan pelatihan kepada ibu-ibu PKK pada saat mengikuti lomba memasak tingkat kabupaten.
Adapun Proses Pembuatan “Kue Semprit Lolon Gedang” bahan dan alat yang digunakan pisau, wadah, parut, penyaring, mesin penghalus, kompor, sendok, oven, cetakan (spuit), plastic, mikser, tepung batang papaya, gula halus, telur, vanili, susu bubuk, butter, margarine.
Proses pembuatan 1). menyiapkan alat dan bahan, 2). Membersihan batang pepaya yang sudah dikupas dari kulit batang, 3). Memotong batang tersebut dengan ukuran yang lebih kecil, 4). Merendam batang pepaya dengan air kapur selama 1 hari (24 jam).
Kue semprit lolon gedang ini memiliki banyak manfaat. Disamping sebagai usaha baru yang menjanjikan juga sangat baik dikonsumsi oleh masyarakat. Adapun kelebihan darii kue semprit lolon gedang ini adalah diantaranya : “Lebih harum, cocok untuk penderita diabetes, variasi bentuk dan warna, serta baik untuk makanan diet”. Sehingga diharapkan selain mampu memperbaiki ekonomi masyarakat juga berdampak baik bagi kesehatan masyarakat.
By: Badri_asa

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru