Berbagi Pengalaman di Bengkel Komunikasi

Makassar—Banyak yang diperoleh mengikuti kegiatan Bengkel Komunikasi Berkampanye lewat Media Sosial, di Makassar-Sulawesi Selatan, 24 Februari 2015 lalu. Kegiatan yang diadakan oleh Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) selama satu minggu tersebut, melibatkan banyak lembaga (LSM) maupun komunitas tersohor di wilayah itu. Tak luput pula, dua komunitas Kampung Media Bolo Kabupaten Bima dan Kampung Media Nggusuwaru Kota Bima - NTB, diundang untuk mengikuti kegiatan yang didukung oleh beberapa lembaga dari negara luar yang menjadi mitra kerjasama Pemerintah Indonesia.

Selain Australia Indonesia Partnership For Decentralisation (AIPD) dan Australian Goverment (Departement of Foreign Affairs and Trade)—kegiatan ini juga didukung oleh lembaga donor dari Amerika Serikat yaitu Unicef.

            Banyak hal yang dibahas dalam kegiatan bertajuk “Berkampanye lewat Sosial Media”. Mulai dari etika berkampanye hingga pada tehnik untuk menghindari jeratan UU ITe. Sebab, selama ini cukup banyak masyarakat Indonesia yang tersandung kasus dalam dunia Sosial Media. Termasuk didalamnya melalui jejaring facebook.   

            Data Statisik tahun 2014 yang disampaikan jelajah indie komunikasi (JIKom) menyebutkan, pengguna media sosial dan smartphone di Indonesia sangat tinggi. Dari total populasi 251,160,124—diantaranya adalah pengguna internet sebanyak 38,191,873 dengan penetrasi pengguna 15%—facebook 62,000,000 dengan 25% penetrasi dan pengguna mobile -/+30,000,000 (14% penetrasi).  

            Dari indikator tersebut rata-rata waktu yang menggunakan internet setiap harinya baik melalui PC/Laptop yaitu selama 5 jam 30 menit. Sedangkan pengguna mobile/smartphone dipresentasikan 14% dengan rata-rata waktu yang dimanfaatkan 2 jam 30 menit.

            Sementara indikator pengguna Sosial Media (Sosmed) yang berdasarkan total populasi sebanyak 15%, rata-rata waktu yang dihabiskan user dalam mengakses media sosial setiap harinya selama 2 jam 54 menit. Untuk pengguna sosmed melalui mobile atau smartphone, dipresentasikan sebanyak 74%, dan 32% bagi pegiat mobile yang menggunakan layanan lokasi.

            Masyarakat Internasional termasuk Indonesia sendiri, beragam bentuk landskap sosial media yang digunakan, baik untuk kepentingan pribadi maupun usaha lainnya. Ada bentuk landskap yang dipakai untuk ruang publish, share, disccuss, sosial network, micro blogging, live stream, livecast, virtual worlds, sosial gaming maupun MMO.

           
Sebagai duta Kabupaten/Kota Bima yang diundang, kami diberi kesempatan melakukan presentasi terhadap pengguna sosial media di daerah (Bima). Kami juga memperkenalkan diri dihadapan 26 peserta yang ikut, sambil berbagi (share) pengalaman yang dilakukan sebelumnya, seperti keberhasilan komunitas Kampung Media NTB hingga masuk 9 Top Inovasi Pelayanan Publik Nasional.

Awalnya, peserta bengkel komunikasi pembangunan mengira Bima berada di Provinsi NTT. Namun hal itu diluruskan saat kami meperkenalkan diri bahwa yang sebenarnya Bima berada dalam pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berkampanye menggunakan sosial medial, diakui masih minim dilakukan oleh pegiat jejaring sosial media di Bima. Seperti disampaikan LM Tudiansyah alias Yudha, ketua KM Nggusuwaru Kota Bima. Menurutnya, di Kota/Kabupaten Bima, pengguna jejaring facebook mendominasi (favorit)—setelah itu twitter atau sosmed lainnya. Untuk bentuk landskap publish (web, blog, wordpress), kerap digunakan oleh pegiat media (Pers).

Keberadaan undang-undang ITe, masih dianggap mempersempit ruang gerak bagi pegiat jejaring sosial media dalam berkampanye. Meski saat ini tengah diperjuangkan untuk merevisi salah satu pasal dalam UU tersebut, ada 15 point etika dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh pegiat media sosial untuk menghindari agar kita tidak terjerat dalam UU Ite dimaksud.

Etika dan hal-hal yang tertuang dalam 15 point dimaksud adalah—kita tetap patuhi etika umum sebagai orang Indonesia, jangan menjelek-jelekkan orang atau pihak lain (termasuk kota, brand atau kampanye lain), jangan berlebihan menyebarkan fakta untuk menghindari kesan mendramatisir sesuatu, hati-hati menyebarkan informasi yang bisa jadi HOAX, hindari menghina orang/pihak lain (bila ada keluhan usahakan menggunakan bahasa bersayap atau tidak menyebut langsung orang/pihak lain), hargai karya cipta orang lain (jangan copy-paste tanpa izin), perhatikan sifat informasi yang disampaikan dan jangan sampai menyampaikan informasi yang bersifat rahasia, jangan malu mengakui kesalahan (meminta maaf dan berbesar hati.

Kemudian, mengakui jauh lebih baik daripada menghindar dan tidak mengakui kesalahan), hati-hati salah Akun!, media sosial bukan Diary (batasi membagi seputar kehidupan pribadi/sensitif/masalah keuangan/bertengkar dengan seseorang/pandangan kita kepada orang lain), hati-hati bila check in place dan mengupdate status sedang dimana kita berada (tanpa disadari check in place bisa mengundang orang yang berniat jahat kepada kita/mengetahi dan dengan siapa kita berada), hindari posting candaan/yang berunsur SARA serta pornografi yang dapat menyinggung dan salah presepsi pihak lain sehingga membawa dampak buruk, jangan asal Tag (#), dan bijak dalam mencantumkan informasi pribadi/alamat rumah/nomor telepon/tempat bersekolah/alamat email.(adi) -05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru