logoblog

Cari

Soal Aturan Pembatasan Whatsapp

Soal Aturan Pembatasan Whatsapp

Siapa yang tak menggunakan aplikasi pesan Whatsapp (WA)? Semua orang rasanya berkomunikasi menggunakan aplikasi berbasis internet itu. Contohnya, Reno (32 tahun).

Teknologi

suryadi jamie
Oleh suryadi jamie
22 Januari, 2019 15:57:11
Teknologi
Komentar: 0
Dibaca: 2363 Kali

Siapa yang tak menggunakan aplikasi pesan Whatsapp (WA)? Semua orang rasanya berkomunikasi menggunakan aplikasi berbasis internet itu.

Contohnya, Reno (32 tahun). Karyawan swasta di salah sebuah perusahaan jasa ini telah menggunakannya sejak lima tahun lalu. Kemudahan platform yang ditawarkan Whatsapp membuatnya lebih digemari dibanding aplikasi sejenis semisal Telegram. Ada juga Arif (21) mahasiswa di universitas negeri Mataram ini memiliki hampir duapuluhan lebih grup WA. Mulai dari grup WA keluarga, relasi bisnis online nya sampai dengan komunitas hobi kegemarannya. Selebihnya adalah grup WA yang menyediakan informasi apa saja dan tentang apa saja. Meski begitu, menurut pengakuan Arif, dari pertemanan di grup WA terkadang ada saja pesan atau informasi yang di forward dari teman ke teman berikutnya yang “nyasar” karena seringkali tak sesuai dengan grup WA yang sengaja dibuat untuk kebutuhan tertentu itu.

Mulai tanggal 22 Januari 2019 ini, pengelola aplikasi Whatsapp memberlakukan pembatasan terhadap penggunaan pesan instan. Dijelaskan Whatsapp pengguna dibatasi sebanyak hanya lima kali untuk meneruskan (forwarding) pesan dari pihak pertama ke pengguna berikutnya.

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi sendiri pihaknya mengapresiasi langkah Whatsapp memberlakukan aturan baru ini. Seperti dijelaskan pihak pengelola Whatsapp hal ini dimaksudkan untuk mengurangi konten negative yang kini makin mencemaskan. Ada beberapa kasus yang menarik perhatian oleh sebab pengaruhnya terhadap warga masyarakat. Sepertinya, persoalan konten negative ini tak hanya dialami Indonesia sebagai negara pengguna internet terbanyak di dunia. Terlebih dalam kondisi tahun politik seperti saat ini. Penggunaan media pesan instan maupun media social lainnya makin dianggap sebagai media efektif untuk menyebarkan pengaruh, baik sebagai media sosialisasi maupun platform e commerce non formal.

Sejak menjadi perhatian global, seperti dikutip dari World Global Influencer Leader, I

Soal Aturan Pembatasan Whatsapp

Siapa yang tak menggunakan aplikasi pesan Whatsapp (WA)? Semua orang rasanya berkomunikasi menggunakan aplikasi berbasis internet itu. 
Contohnya, Reno (32 tahun). Karyawan swasta di salah sebuah perusahaan jasa ini telah menggunakannya sejak lima tahun lalu. Kemudahan platform yang ditawarkan Whatsapp membuatnya lebih digemari dibanding aplikasi sejenis semisal Telegram. Ada juga Arif (21) mahasiswa di universitas negeri Mataram ini memiliki hampir duapuluhan lebih grup WA. Mulai dari grup WA keluarga, relasi bisnis online nya sampai dengan komunitas hobi kegemarannya. Selebihnya adalah grup WA yang menyediakan informasi apa saja tentang apa saja. Meski begitu, menurut pengakuan Arif, dari pertemanan di grup WA terkadang ada saja pesan atau informasi yang di forward dari teman ke teman berikutnya yang “nyasar” karena seringkali tak sesuai dengan grup WA yang sengaja dibuat untuk kebutuhan tertentu itu.
Mulai tanggal 22 Januari 2019 ini, pengelola aplikasi Whatsapp memberlakukan pembatasan terhadap penggunaan pesan instan. Dijelaskan Whatsapp pengguna dibatasi sebanyak hanya lima kali untuk meneruskan (forwarding) pesan dari pihak pertama ke pengguna berikutnya.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi sendiri pihaknya mengapresiasi langkah Whatsapp memberlakukan aturan baru ini. Seperti dijelaskan pihak pengelola Whatsapp hal ini dimaksudkan untuk mengurangi konten negative yang kini makin mencemaskan. Ada beberapa kasus yang menarik perhatian oleh sebab pengaruhnya terhadap warga masyarakat. Sepertinya, persoalan konten negative ini tak hanya dialami Indonesia sebagai negara pengguna internet terbanyak di dunia. Terlebih dalam kondisi tahun politik seperti saat ini. Penggunaan media pesan instan maupun media social lainnya makin dianggap sebagai media efektif untuk menyebarkan pengaruh, baik sebagai media sosialisasi maupun platform e commerce non formal.
Sejak menjadi perhatian global, seperti dikutip dari World Global Influencer Leader, Indonesia menjadi negara keempat setelah India mulai diberlakukannya pembatasan forward pesan ini.
Secara teknis aturan pembatasan itu, yang memforward pesan diatas lima kali masih bisa berbagi tak terbatas dengan melakukan copy paste, hanya kalau yang dicopy adalah konten hoax maka secara hukum bisa dituntut sebagai penerbit hoax. Jadi, sebelum melakukan copy paste informasi sebaiknya informasi tersebut bukanlah hoax ataupun konten negative. Terlebih konten yang memang secara hukum dilarang.
Dalam Siaran Pers Kemenkominfo RI, Senin, 21 Januari 2019 tentang Hasil Pertemuan Menteri Kominfo dengan Perwakilan WhatsApp, Victoria Grand, Vice President Public Policy and Communications WhatsApp, di Kantor Kementerian Kominfo beberapa hasil pertemuan tersebut diantaranya membahas langkah nyata untuk mengurangi penyebaran hoaks yang sangat cepat viral melalui aplikasi pesan instan WhatsApp, pembatasan jumlah forward pesan melalui WhatsApp yang telah dibahas sejak kuartal ketiga tahun 2018. Adapun beta test fitur itu telah dilakukan sejak dua bulan terakhir, fitur pembatasan forward pesan melaui WhatsApp akan mulai berlaku efektif pada tanggal 21 Januari 2019 waktu Los Angeles atau tanggal 22 Januari 2019 Pukul 12.00 Waktu Indonesia Bagian Barat. Adapun pembatasan jumlah forward pesan pada aplikasi Whatsapp baru berlaku untuk pengguna OS Android. Untuk IOS sedang dalam proses pengembangan.
Menteri Kominfo Rudiantara mengapresiasi langkah WhatsApp untuk mengurangi  penyebaran konten negatif di platform pesan instan itu. Terlebih sejak trend penyebaran hoax di Indonesia  semakin dinilai merusak dan tidak terbatas hanya pada urusan politik semata tapi di segala sisi kebutuhan manusia atas informasi yang benar.
Menurut Muhammad F Hafiz, pegiat media social, pembatasan forward pesan yang diberlakukan oleh pengembang Whatsapp tidak terlalu berdampak signifikan pada traffic komunikasi di aplikasi WA. Namun tetap berdampak baik mengingat makin massif nya serangan hoax di media social. Salah satu yang rentan terkena hoax adalah aplikasi WA. Selain penggunanya yang makin bertambah, pola pesan berantai dengan fitur forward tersebut jika tak dibatasi akan menjadi tak terkendali.
Dikatakannya lagi, meski secara teknis pengguna aplikasi WA masih bisa mengcopy paste pesan yang akan dibagikan dengan tidak terbatas, setidaknya pengguna masih bisa memikirkan implikasi dari tindakan menulis ulang atau mengcopy paste pesan yang akan di forward.
“Kalau pesan yang masuk sudah tidak bisa diforward karena pembatasan itu, pilihannya adalah menulis ulang atau mencopy paste dengan implikasi informasi yang ditulis ulang mengalami distorsi dan jika benar hoax maka bisa dianggap penerbit hoax pertama kali”, jelas Hafiz.
Namun demikian jika tindakan menulis ulang dilakukan setidaknya pengguna WA punya kesempatan memahami informasi yang masuk sebelum ditulis ulang jika informasi dianggap penting sehingga ada kesempatan melakukan verifikasi kebenarannya sebelum dibagikan. “Hikmahnya, user bisa berpikir ulang soal kontennya apakah negative atau tidak yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh pengguna karena tanpa batasan dan tinggal klik fitur forward, informasi cepat berpindah tempat. Krena kalau copy paste, system Whatsapp masih bisa merekamnya”, kata Hafiz. (jm).
 

ndonesia menjadi negara keempat setelah India mulai diberlakukannya pembatasan forward pesan ini.

Secara teknis aturan pembatasan itu, yang memforward pesan diatas lima kali masih bisa dengan melakukan copy paste, artinya kalau yang dicopy adalah konten hoax maka secara hukum bisa dituntut sebagai penerbit hoax. Jadi, sebelum melakukan copy paste informasi sebaiknya informasi tersebut bukanlah hoax ataupun konten negative. Terlebih konten yang memang secara hukum dilarang.

 

Baca Juga :


Dalam Siaran Pers Kemenkominfo RI, Senin, 21 Januari 2019 tentang Hasil Pertemuan Menteri Kominfo dengan Perwakilan WhatsApp, Victoria Grand, Vice President Public Policy and Communications WhatsApp, di Kantor Kementerian Kominfo beberapa hasil pertemuan tersebut diantaranya membahas langkah nyata untuk mengurangi penyebaran hoaks yang sangat cepat viral melalui aplikasi pesan instan WhatsApp, pembatasan jumlah forward pesan melalui WhatsApp telah dibahas sejak kuartal ketiga tahun 2018.

Adapun beta test fitur itu telah dilakukan sejak dua bulan terakhir, fitur pembatasan forward pesan melaui WhatsApp akan mulai berlaku efektif pada tanggal 21 Januari 2019 waktu Los Angeles atau tanggal 22 Januari 2019 Pukul 12.00 Waktu Indonesia Bagian Barat, pembatasan jumlah forward pesan pada aplikasi Whatsapp baru berlaku untuk pengguna OS Android. Untuk IOS sedang dalam proses pengembangan.

Menteri Kominfo Rudiantara mengapresiasi langkah WhatsApp untuk mengurangi  penyebaran konten negatif di platform pesan instan itu terlebih sejak trend penyebaran hoax di Indonesia  semakin dinilai merusak dan tidak terbatas hanya pada urusan politik semata tapi di segala sisi kebutuhan manusia atas informasi yang benar.

Menurut Muhammad F Hafiz, pegiat media social mengatakan, pembatasan forward pesan yang diberlakukan oleh pengembang Whatsapp tidak terlalu berdampak signifikan pada traffic komunikasi di aplikasi WA. Justru pembatasan ini berdampak baik mengingat makin massif nya serangan hoax di media social. Salah satu yang rentan terkena hoax adalah aplikasi WA. Selain penggunanya yang makin bertambah, pola pesan berantai dengan fitur forward tersebut jika tak dibatasi akan menjadi tak terkendali.

Dikatakannya lagi, jika secara teknis pengguna aplikasi WA masih bisa mengcopy paste pesan yang akan dibagikan setidaknya pengguna masih bisa memikirkan implikasi dari tindakan menulis ulang atau mengcopy paste pesan yang akan di forward.

“Misalnya kalau pesan yang masuk sudah tidak bisa diforward karena pembatasan itu, pilihannya adalah menulis ulang atau mencopy paste dengan implikasi informasi yang ditulis ulang mengalami distorsi dan jika benar hoax maka bisa dianggap penerbit hoax pertama kali”, jelas Hafiz.

Namun demikian jika tindakan menulis ulang dilakukan setidaknya pengguna WA punya kesempatan memahami informasi yang masuk sebelum ditulis ulang jika informasi dianggap penting dan telah diverifikasi kebenarannya untuk dibagikan, yang sebelumnya langsung diforward kembali tanpa dipahami dengan baik. (jm).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan